Adab Bertanya Pada Guru

Rasulullah keluar menyampaikan tausiah yang panjang tentang hari kiamat, maka diantara para sahabat banyak yang menjerit dan menangis. Setelah itu Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam melihat ada diantara para sahabat yang belum faham dengan makna apa yang telah disampaikan nabi, maka Rasulullah mempersilahkan mereka untuk bertanya, maka banyak diantara mereka yang bertanya, justru hal itu yang dikhawatirkan oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena berarti diantara mereka ada yang ragu dengan kenabian beliau, atau terhadap hari kiamat, terhadap islam.

Maka disaat itu ada yang bertanya, “wahai Rasul jika engkau memang benar-benar nabi dan mempunyai mu’jizat mengetahui sesuatu, maka katakan siapa ayahku?”

Maka Rasulullah berkata, “ayahmu Huzafah.”

Dan terus ada yang bertanya lagi dengan pertanyaan yang serupa yang sepantasnya tidak diketahui oleh orang umum

Maka sayyidina Umar ibn Khattab melihat wajah Rasul mulai murka, karena hal itu menunjukkan seakan-akan mereka tidak percaya atau ragu dengan kenabian beliau, atau ingin menguji beliau. Para sahabat yang sangat dicintai beliau justru berbalik ingin juga menguji kenabian beliau, sehingga hal itu membuat wajah beliau berubah dan murka, maka sayyidina Umar berlutut di kaki beliau dan berkata:

رَضِيْنَا بِاللهِ رَبًّا وَبِاْلإِسْلَامِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا

“Kami ridha Allah sebagai tuhan kami, islam sebagai agama kami, dan Muhammad sebagai nabi kami.”

Dari hadits ini kita memahami betapa agungnya pemahaman para sahabat serta ihtiram kepada guru. Jadi makna yang bisa kita ambil dari hadits ini adalah hati-hati dalam bertanya kepada guru, bertanya kepada guru adalah hal yang sangat diperbolehkan bahkan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam sering memberi kesempatan kepada para sahabat untuk bertanya, namun cara bertanya yang salah itulah yang bisa membuat kemarahan sang guru, yang akhirnya bukan justru memberi manfaat kepada sang murid tetapi justru membawa musibah. Oleh karena itu sayyidina Umar segera menenangkan nabi karena khawatir nabi akan murka, jangankan membuat murka Rasulullah, mengangkat suara di hadapan Rasulullah saja Allah akan menghapus segala pahala, karena mengangkat suara di depan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

( الحجرات :2 )

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suaramu lebih daripada suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya(suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak terhapus amalan pahalamu sedangkan kamu tidak menyadari.” ( QS.Al Hujurat: 2 ) {}

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page