Jangan Ibadah Berlebihan

Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari ketika bagaimana indahnya Sang Nabi saw memberikan tarbiyah kepada para sahabat dengan seindah-indahnya tuntunan.

Sampai kabar kepada Sang Nabi saw bahwa Abdullah bin Amr bin Ash ini sepanjang malam melakukan shalat malam sambil membaca AlQur’an dan pada siang hari berpuasa. Setiap hari ia lakukan seperti itu.

Maka Rasul saw memanggilnya, “apakah engkau betul (shalat sepanjang malam) dimalam hari berapa banyak kau membaca AlQur’an?”

Abdullah bin Amr bin Ash berkata, “aku khatam Alqur’an setiap malamnya, wahai Rasulullah.”

“Lalu siang hari?”

“Siang hari aku puasa setiap harinya wahai Rasulullah.”

Rasul saw berkata “jangan kau perbuat! bacalah AlQur’an 1 bulan sekali khatam (1 hari = 1 juz).” Itu yang terbaik dan yang sunnah untuk kita. Orang-orang yang mempunyai kesibukkan dan lainnya disunnahkan untuk membaca 1 juz 1 hari bila mampu.

Rasul saw mengajarkan, 1 bulan 1 kali khatam dan berpuasalah 3 hari setiap bulannya.

Maka Abdullah bin Amr bin Ash berkata, “wahai Rasulullah, aku mampu lebih dari itu wahai Rasulullah.” Maka Rasul saw terlihat wajahnya berubah, sudah diberi saran malah mendebat saran Sang Nabi saw.

Maka Rasul saw berkata, “kalau begitu 1 minggu 3 hari puasanya.” Abdullah bin Amr bin Ash kembali menjawab “ya Rasulllah aku bisa lebih dari itu.”

Teruslah ia meminta dan meminta, sampai akhirnya Rasul saw berkata “kalau begitu 1 hari puasa 1 hari tidak, yaitu puasa Nabi Daud as, dan tidak ada yang lebih dari itu.”

Maksudnya Rasul saw tidak memberi izin untuk puasa lebih dari puasa Nabiyullah Daud as yaitu sehari puasa sehari tidak puasa, besoknya puasa besoknya tidak puasa. Itu sudah puasa yang terbanyak bagi umat Nabi Muhammad saw.

Sampai tak lama kemudian Rasul saw wafat dan sampai khilafah dan sampai Abdullah bin Amr bin Ash meriwayatkan hadits ini jauh setelah wafatnya Sang Nabi saw.

Ia berkata, “coba kalau aku terima saran Sang Nabi saw itu dari awal, jangan sampai tidak, apa artinya ibadahku yang sedemikian banyak kalau seandainya ibadahku itu menyinggung perasaan Rasulullah saw.”

“Kalau saja dari awal aku terima saran Sang Nabi saw sehingga Sang Nabi saw gembira kepadaku, sehingga Sang Nabi saw menyayangiku karena menerima wasiatnya, maka itu jauh lebih berharga daripada ibadahku, yaitu ibadah-ibadah sunnah Rasul saw.”

Walau Abdullah bin Amr bin Ash berjuang dengan puasa Nabiyullah Daud atau berjuang dengan amalan ibadah lainnya, belum tentu ia menemukan kesempatan menggembirakan hati Sang Nabi Muhammad saw. {}

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page