Jangan Menggembala di Batas Larangan

Rasul Saw memberikan penjelasan kepada kita “Alhalaalu bayyin, walharamu bayyin, wa bainahumaa musyabbahaat” hal yang halal sudah jelas, hal yang haram sudah jelas dan diantara keduanya ada hal-hal yang syubhat, “la ya’lamuhaa katsiiruminanaas” kebanyakan orang tidak tahu ini. Hal-hal yang syubhat masuk mana hukumnya halalkah, haramkah? Masih dijadikan ikhtilaf (perbedaan pendapat) dan perdebatan, tidak jelas halal dan haramnya.

Maka Rasul saw meneruskan “faman ittaqalmusyabahaat, istabro-a lidiinihi wa ‘irdhihi” barangsiapa yang menghindari perbuatan yang syubhat (tidak jelas halal atau haramnya) ia telah mensucikan dirinya untuk agamanya dan untuk dirinya, ia telah mensucikan dirinya dan mensucikan harga dirinya di hadapan Allah.

Misal muncul keraguan saat beli makanan, ini halal atau haram ya? Ini syubhat. Tapi jangan sampai syubhat itu terbawa jadi sifat was-was, tidak boleh seperti itu. Masuk ke rumah untuk bertamu, disediakan makanan ayam. Makanan ini halal tidak ya? disembelih tidak ya? jangan seperti itu. Kecuali kalau kita benar-benar masuk ke restoran orang-orang non muslim. Boleh curiga, makanan yang ada disitu bisa syubhat semua. Kenapa? barangkali tersentuh dengan hal-hal yang dilarang oleh Islam, itu syubhat semua. Kalau sudah kelihatan jelas makanan haram itu ada maka haram. Tapi kalau seandainya tidak bisa dibuktikan kehalalannya 100% di restoran itu karena banyak makanan yang dilarang didalam Islam, dan tidak tahu apakah terkena piringnya atau sendoknya atau minyaknya dan lain sebagainya. Ini syubhat (halal bukan dan haram pun bukan).

Waman waqa’a fiisysyabuhaat karaa’iy yar’a hawlalhima, yuusyiku an yuwaa qi’ahu” barangsiapa yang jatuh kepada hal-hal yang syubhat makanan atau minuman dan lainnya, diumpamakan sebagaimana penggembala menggembala di dekat batas larangan. Apa maksud penggembala menggembala di batas larangan? Yaitu menggembala di tempat-tempat yang dekat dengan batas larangan. Meski bukan dirinya yang melewati batas tersebut, tapi gembalaannya ini bisa melewati batas dan ia akan terkena hukuman juga. Maksudnya, syubhat itu sangat dekat dengan haram. Kenapa tidak di posisi yang halal saja? jangan masuk ke tempat yang dekat dengan batas larangan. Seperti menggembala di batas larangan. Bisa saja ia jatuh, terinjak, ke tanah larangan dan terkena hukuman.

Alaa wa inna likulli malikin himaa alaa inna himallahi fii ardhihi mahaarimuhu” sungguh ketahuilah setiap penguasa itu mempunyai batas larangan. Apa batas larangannya? Batas larangan-larangan Allah di bumi yang miliknya ini adalah hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Rasul saw menyampaikan hadits ini agar kita berfikir, jangankan berbuat hal yang haram, yang syubhat pun usahakan kita mensucikan diri dari hal tersebut.

Rasul saw meneruskan haditsnya “alaa wa inna filjasadi mudhghata” ketahuilah, didalam tubuh itu ada segumpal daging.

Idzaa shalahat shalahal jasadu kulluhu, waidza fasadat fasadal jasadu kulluhu, alaa wahiyalqalb” kalau seandainya segumpal daging itu baik maka baiklah seluruh tubuhnya dan kalau buruk maka buruklah seluruh tubuhnya. Gumpalan daging yang dimaksud adalah hati, kata Rasul saw. Hati sanubari ini seakan hanya gumpalan daging saja, tapi kalau hati seseorang isinya penuh dengan kebaikan maka seluruh tubuhnya baik, ucapannya baik, perbuatannya baik, tingkah lakunya baik. Ketika jiwanya penuh dengan kehinaan, ucapannya hina, perbuatannya hina, dan tingkah lakunya hina. {}

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page