Keluasan Ilmu Para Imam Terdahulu

Sungguh para imam terdahulu bukanlah seperti yang telah dikatakan oleh sebagian orang yang menganggap bahwa mereka bisanya hanya sekedar ziarah, shalawatan, atau hal-hal yang syirik yang mereka perbuat. Padahal sungguh mereka adalah para imam besar dan kita tidak ada yang menyaingi mereka.

Salah satu murid Al Imam Ahmad bin Zen Al Habsyi adalah Al Imam Abdullah bin Abdurrahman Balfaqih ‘Allamatuddunya, beliau digelari ‘Allamatuaddunya, karena disaat itu tidak ada seorangpun yang melebihi keilmuannya.

Beliau berkata saat mendekati ajalnya, “aku mempunyai 8 cabang ilmu yang belum sempat aku ajarkan dan 8 cabang ilmu itu hilang karena aku orang terakhir yang mengetahuinya saat ini.” Mengapa demikian? karena belum ada diantara murid-muridnya yang mencapai derajat untuk bisa mempelajari 8 cabang keilmuan itu.

Salah satu kejadian ketika musim Haji di Makkah Al Mukarramah dan disaat itu tidak seperti sekarang dimana kesemuanya menjadi hal yang syirik dan bid’ah di Makkah. Di zaman itu Makkah Al Mukarramah penuh dengan ulama’, para mufti dan hujjatul islam.

Ketika ada sebuah pertanyaan yang tidak terjawab dan tidak ada yang bisa menjawab, disaat itu ada Al Imam Abdullah bin Abdurrahman Balfaqih, namun karena semua memakai pakaian ihram maka tidak ketahuan kalau beliau adalah Al Imam Abdullah.

Al Imam berkata kepada orang awam yang berada di sebelahnya untuk menjawab pertanyaan tadi setelah memberitau jawabannya kepada orang itu, maka orang awam itu berdiri dan berkata, “jawabanya adalah begini dan begini…”

Maka guru mufti Makkah dan para imam besar melihatnya dan berkata, “engkau siapa dan datang dari mana?”

Orang itu menjawab, “saya hanya orang biasa bukan seorang ulama.”

Mufti itu berkata, “mustahil kamu mengetahui jawabannya, karena tidak ada yang tau jawaban dari pertanyaan ini kecuali ‘Allamah Addunya Al Imam Abdullah bin Abdurrahman Balfaqih, apakah engkau murid beliau atau kenal dengan beliau?”

Orang awam menjawab, “tidak, aku bukan muridnya dan tidak pula kenal dengannya.”

Mufti Makkah kembali bertanya, “terus kamu tau dari mana jawaban itu?”

Ia menjawab, “dari orang yang disebelahku ini.”

Dan ternyata beliau adalah Al Imam Abdullah bin Abdurrahman Balfaqih.

Mufti Makkah berseru, “Allahu Akbar…!, Wahai Al Imam majulah kedepan jangan duduk di belakang.”

Lantas beliau kedepan dan mufti Makkah berkata, “Mohon ajarkan kami ilmu tafsir.”

Maka Al Imam berkata, “mengajarkan kalian ilmu tafsir?! berapa lama aku harus disini, sedangkan aku hanya akan duduk beberapa hari saja disini untuk haji?!”

Maka mufti Makkah menjawab, “sebisanya saja wahai Al Imam.”

Lantas Al Imam bertanya, “Aku mulai dari tafsir awal surat atau bagaimana?”

Mufti Makkah menjawab, “dari awal surat wahai Al Imam.”

Maka Al Imam duduk dan mulai mensyarahkan huruf “baa” dari ayat pertama di surat Al Fatihah. Syarah huruf “baa” belum selesai syarah penjelasannya hingga belasan kali majelis hingga berakhir masa haji dan beliau pulang ke Hadramaut penjelasan huruf “baa” dari huruf pertama di Al Qur’an itu belum selesai, demikian keluasan ilmu ulama’ terdahulu. ()

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page