Makan Sembelihan Non Muslim

Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari ketika para sahabat berdakwah ke wilayah-wilayah kuffar Quraiys, saat itu pemimpin qabilah Quraiys sakit. Maka para rakyatnya datang kepada para sahabat dan berkata, “wahai kalian, sepertinya kalian adalah orang-orang yang baik, kepala suku kami sedang sakit bisakah kalian mengobatinya?”

Maka para sahabat saling memandang, kemudian diantara mereka ada yang berkata barangkali jika mereka mengobati kepala suku itu dan ia sembuh kemudian ia akan masuk Islam, maka diambillah air dan dibacakan surah Al Fatihah dan diminumkan kepada kepala suku itu dan akhirnya sembuh.

Kemudian ia dan semua suku-sukunya masuk Islam.

Al Imam Ibn Hajar Al ‘Asqalany di dalam Fathul Bari bisyarah Shahih Al Bukhari dan para muhaddits lainnya mensyarahkan makna hadits ini bahwa diperbolehkannya untuk memberikan doa bagi orang-orang non muslim berupa air, atau berupa doa langsung jika diharapkan mereka bisa mendapatkan hidayah, karena hal itu justru diperbuat oleh para sahabat Ra.

Dan kemudian mereka diberi hadiah kambing dan mereka bawa pulang ke Madinah Al Munawwarah. Maka salah seorang diantara mereka berkata, “kita sembelih saja kambing ini.”

Sahabat yang lain berkata, “tunggu, kita tanyakan kepada Rasulullah dulu apakah beliau ridha dengan apa yang telah kita lakukan, jangan-jangan beliau tidak ridha kita mengobati orang non muslim tadi.”

Setelah ditanyakan kepada Rasulullah beliau tersenyum dan berkata, “sembelihlah kambing itu kemudian makanlah dan sisakan sedikit untukku.”

Al Imam Ibn Hajar Al Asqalany dalam kitabnya Fathul Baari bisyarah Shahih Al Bukahri menjelaskan bahwa ucapan Rasulullah itu bukanlah untuk meminta bagian dari kambing itu, tetapi menenangkan para sahabat dikarenakan sebagian sahabat masih risau dan bingung dengan hadiah dari non muslim tadi apakah mereka memakannya atau tidak, sehingga jika disisakan untuk Rasulullah maka beliau pun akan memakannya, dan para sahabat akan merasa tenang dan tidak ada kerisauan atas sembelihan itu karena Rasulullah juga memakannya, jika sembelihan oleh orang muslim maka hal itu boleh dan halal.

Tetapi jika sembelihan itu dari orang Yahudi yang diperuntukkan untuk penyembahan berhala, maka hal itu tidak diperbolehkan di dalam syariah karena disembelih atas nama selain Allah subhanahu wata’ala.

Dan mengenai sembelihan orang non muslim dalam hal ini para ulama berbeda pendapat, sebagian ulama berpegang pada hadits Shahih Bukhari bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam suatu hari didatangi oleh para sahabat yang kebingungan karena mereka diberi daging dari seseorang yang tidak jelas apakah dia muslim atau non muslim dan yang jelas agama Islam belum masuk ke wilayah itu, maka Rasulullah berkata, “makanlah dan bacalah Bismillah, jika mereka menyembelihnya tidak mengucapkan nama Allah maka kalian yang memakannya menyebut nama Allah.”

Namun dalam hal ini para imam madzhab berbeda pendapat, diriwayatkan oleh Al Imam Ibn Hajar didalam Fathul Bari bahwa hal itu terjadi di masa awal Islam, tetapi di masa setelah kejayaan Islam dan setelah menyebarnya Islam sebagian imam mengatakan tidak dihalalkan memakan sembelihan orang-orang yang non muslim, namun sebagian ulama mengatakan “boleh” dengan dalil hadits ini, “makanlah dan bacalah Bismillah, jika mereka menyembelihnya tidak mengucapkan nama Allah maka kalian yang memakannya menyebut nama Allah.”

Tetapi sebagian besar dalam madzhab Syafi’i tidak membenarkan hal ini, mereka mengambil pendapat yang kedua yaitu tidak memakan sembelihan orang non muslim. {}

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page