Perjanjian Hudaibiyah

Perjanjian Hudaibiyah yang terjadi pada bulan Dzulqa’dah tahun 6 H. Sebagaimana dalam riwayat Shahih Al Bukhari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari Madinah Al Munawwarah bersama 1400 kaum muslimin menuju Makkah untuk melakukan ibadah umrah dan bukan untuk maksud peperangan dan kekerasan dengan senjata, tetapi mereka membawa hewan ternak untuk disembelih sebagai hewan kurban.

Mendengar kabar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menuju Makkah bersama 1400 kaum muslimin untuk melakukan ibadah di Makkah. Maka kaum kuffar Quraisy mengirim seorang utusan (Urwah) untuk datang kepada Rasulullah dan menanyakan maksud kedatangan beliau ke Makkah.

Rasulullah menjawab, “bukankah kalian saudara kami, dan aku datang bersama kaum muslimin dengan kedamaian bukan untuk perang, lihatlah pakaian kami, lihatlah yang kami bawa adalah hewan-hewan ternak yang akan kami sembelih disana, apakah kalian melihat kami membawa senjata?”

Dan setiap kali rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbicara maka Urwah memegang jenggot Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka marahlah sayyidina Mughirah Ra melihat hal itu, kemudian ia memukulkan pedangnya yang masih tertutup dengan sarungnya ke tangan Urwah ketika akan menyentuh jenggot Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bekata, “jangan kau sentuh lagi jenggot rasulullah, bersopan santunlah dihadapan rasulullah dan katakan saja apa maumu?”

Namun rasulullah tetap sabar dan tenang, sedangkan Urwah masih terdiam. Sehingga diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa Urwah berkata, “aku telah pergi ke kerajann Romawi dan aku melihat semua rakyat memuliakan kaisar Romawi, aku melihat rakyat memuliakan kaisar Kisra, dan pengagungan rakyat kepada raja Habasyah, namun tidak pernah kumelihat pengagungan rakyat kepada pemimpinnya seperti pengagungan para sahabat kepada Muhammad, dan banyak diantara mereka tidak mengangkat kepala untuk memandang wajah nabi Muhmmad karena memuliakan beliau.”

Maka setelah Urwah melihat keadaan seperti itu, dia merasa kecewa dan kembali ke Makkah dia berkata, “kaum muslimin datang dengan damai dan yang mereka bawa hanyalah hewan-hewan ternak yang akan disembelih untuk kurban, tidak membawa senjata untuk berperang, namun jika kita (kaum Quraisy) perangi mereka, maka kita akan dikalahkan karena aku melihat bahwa para sahabat sangat mengagungkan nabi Muhammad melebihi pengagungan rakyat kepada kaisar romawi, melebihi pengagungan rakyat kepada raja Habasyi, melebihi penggungan rakyat kepada kaisar Kisra.”

Kemudian kuffar Quraisy mengirim utusan yang lain, dikirimlah Suhail untuk menahan Rasulullah dan kaum muslimin untuk tidak masuk ke Makkah. Maka Suhail membuat perjanjian dengan Rasulullah untuk tidak masuk ke Makkah saat itu namun di tahun yang akan datang, dan sayyidina bin Abi thalib yang menulisnya.

Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa ketika rasulullah memerintahakan sayyidina Ali untuk menulis “Bismillahirrahmanirrahim.”

Suhail berkata, “jangan tulis Ar Rahman Ar Rahim, tetapi tulis Bismikallahumma, karena kami tidak mengenal Ar Rahman Ar Rahim.”

Maka kaum muslimin riuh dan berkata, “mengapa nama Allah dilarang untuk ditulis, tetap tulis nama Allah, jangan hiraukan perkataan kaum quraisy.”

Berkatalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “jangan tulis bismillahirrahmanirrahim, tulis bismikallahumma seperti yang mereka mau.” Namun sebenarnya sama-sama menyebut nama Allah juga karena orang Quraisy juga menyembah Allah, hanya mereka mempunyai tuhan lain selain Allah.

Kemudian Rasulullah berkata kepada sayyidina Ali, “tulislah, dari Muhammad rasulullah”

Maka Suhail berkata, “jangan tulis Rasulullah, jika kami mengakui engkau Rasulullah maka kami tidak akan melarang kalian untuk masuk ke Makkah.”

Orang muslimin pun kembali riuh dan tidak mau jika nama Rasulullah dihapus. Rasulullah diam kemudian berkata,

وَاللهِ إِنِّي لَرَسُولُ اللهِ وَلَوْ كَذَّبْتُمُوْنِيْ

“Demi Allah, sungguh aku adalah Rasulullah meskipun kalian mendustaiku.”

Lalu beliau berkata kepada sayyidina Ali, “tulislah dari Muhammad bin Abdillah.” Namun Sayyidina Ali tidak mampu untuk menghapus kalimat Rasulullah dan tangannya pun gemetar, maka Rasulullah yang menghapusnya sendiri.

Di dalam riwayat Shahih Al Bukhari, Suhail berkata, “jika ada diantara kami yang mau masuk Islam maka harus dengan seizin kami, dan jika kami tidak mengizinkan maka harus kalian kembalikan kepada kami, namun jika ada diantara kalian yang mau masuk ke agama kami dan kembali ke Makkah maka tidak boleh kalian larang.”

Rasulullah masih diam dan belum menjawab ucapan Suhail, para sahabat mulai riuh dan tidak setuju dengan ucapan Suhail. Maka rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanya diam, dan belum selesai Rasulullah berbicara, datanglah sayyidina Jandal Bin Suhail dalam keadaan tangan yang terikat, dimana ia ingin masuk Islam namun ditangkap oleh kuffar Quraisy.

Ia berkata, “wahai Rasulullah, apakah engkau setujui perjanjian itu, berarti aku harus kembali lagi kepada kaum Quraisy, aku datang kesini untuk masuk Islam wahai Rasulullah.”

Suhail berkata, “dalam perjanjian yang pertama ini, dia adalah orang pertama yang harus dikembalikan lagi ke Makkah, dan kami akan membawanya kembali ke Makkah.”

Maka berkatalah Jandal bin Suhail, “wahai Rasulullah jika aku dikembalikan lagi kepada orang quraisy maka aku akan dibantai lebih dari pedihnya siksaan yang telah aku rasakan.”

Kaum muslimin pun riuh dan berkata, “wahai Rasulullah bagaimana kita menghalangi orang yang hendak masuk Islam dan menyuruhnya untuk kembali lagi kepada kuffar Quraisy?”

Namun rasulullah tetap menyetujui perjanjian itu kemudian beliau menandatanganinya. Maka para sahabat mundur dan bingung, ada yang kecewa dan risau, dan tidak tau harus berbuat apa.

Disaat itu berdirilah sayyidina Umar bin Khattab dan berkata, “wahai Rasulullah bukankah engkau benar-benar nabiyullah dan utusan Allah?” Tentunya sayyidina Umar bukan ragu dengan kenabian beliau namun beliau hanya ingin mendapatkan jawaban yang jelas agar kaum muslimin menang.

Rasulullah berkata, “balaa, betul.”

Sayyidina Umar kembali berkata, “bukankah kita dalam kebenaran dan mereka dalam kebathilan?”

Rasulullah berkata, “betul.”

Lalu sayyidina Umar berkata, “lantas mengapa kita menghinakan diri kita kepada musuh-musuh kita yang sudah jelas-jelas mereka salah?!”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:

إِنِّيْ رَسُولُ اللهِ وَلَنْ يُضَيِّعَنِيَ اللهُ أَبَدًا

“Sesungguhnya aku adalah Rasulullah dan Allah tidak akan mengecewakanku.”

Maka sayyidina Umar terdiam tidak lagi bisa menjawab perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian sayyidina Umar datang kepada sayyidina Abu Bakr As Shiddiq dan menceritakan kejadian tadi dan menyampaikan kepada Abu Bakar bahwa rasulullah berkata:

إِنِّيْ رَسُولُ اللهِ وَلَنْ يُضَيِّعَنِيَ اللهُ أَبَدً

Sayyidina Abu Bakr berkata, “betul, nabi Muhammad adalah utusan Allah dan Allah tidak akan mengecewakan beliau.” Sayyidina Umar pun terdiam.

Tidak lama kemudian turunlah firman Allah:

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَى نَفْسِهِ وَمَنْ أَوْفَى بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

(الفتح:10)

“Sesungguhnya orang yang berjanji setia kepadamu (Muhammad), sesungguhnya mereka hanya berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah diatas tangan-tangan mereka, maka barangsiapa melanggar janji, maka seseungguhnya ia melanggar atas janjinya sendiri, dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah, maka Dia akan memberinya pahala yang besar.” (QS. Al Fath:10)

Semua kaum muslimin saat itu bersumpah bersama Rasulullah di dalam perjanjian Hudaibiyah, lalu Allah subhanahu wata’ala berfirman bahwa mereka yang bersumpah setia kepada rasulullah sungguh mereka telah bersumpah setia kepada Allah. Allah subhanahu wata’ala ada dalam sumpah setia mereka. Di dalam ayat lainnya Allah berfirman:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

(الفتح : 18)

“Sungguh Allah telah meridhai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon, Dia (Allah) mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka, dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat.” (QS. Al Fath:18)

Allah subhanahu wata’ala telah ridha dengan orang-orang yang telah bersumpah setia kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di bawah pohon, yaitu dalam bai’at Ar Ridwan (perjanjian Hudaibiyah). Allah mengetahui kekecewaan hati mereka, kemudian Allah turunkan ketenangan di hati mereka dan bagi mereka akan datang kemenangan dalam waktu dekat.

Sebelum ayat ini turun, Rasulullah keluar dari kemah dan mengajak para sahabat untuk menyembelih hewan kurban disana lalu mencukur rambut disana, namun para sahabat hanya diam dan tidak satu pun yang bergerak, mereka merasa kebingungan dengan keputusan rasulullah karena selalu menyetujuinya permintaan kuffar Quraisy, bagaimana jika mereka akan meminta perjanjian yang lebih dahsyat lagi, mengapa Rasulullah selalu setuju dengan musuh-musuhnya, menjatuhkan muslimin dan membela musuh-musuhnya, para sahabat kebingungan dan tidak ada yang bergerak dari tempatnya.

Maka rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke dalam kemah dan menjumpai istrinya, Ummu Salamah RA, dan berkatalah Ummu Salamah RA, “wahai Rasulullah jangan bersedih, jika mereka tidak mau menyembelih hewan kurban disini dan mencukur rambut disini, engkau lakukanlah sendiri maka mereka pasti akan mengikuti apa yang engkau perbuat, serisau-risaunya mereka, mereka tetap mencintaimu wahai rasulullah.”

Rasulullah kemudian keluar tanpa berbicara satu kalimat pun, beliau mulai mencukur rambutnya dan menyembelih hewan kurbannya, maka satu persatu para sahabat mengikuti apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Disore itu telah turun ayat firman Allah subhanahu wata’ala:

لَقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آَمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوا فَجَعَلَ مِنْ دُونِ ذَلِكَ فَتْحًا قَرِيبًا

(الفَتْح: 27)

“Sungguh Allah akan membuktikan kepada rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya bahwa kamu pasti akan memasuki masjidil Haram jika Allah menghendaki dalam keadaan aman, dengan menggundul rambut kepala dan memendekkannya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui, dan selain itu Dia (Allah) telah memberikan kemenangan yang dekat.” (QS. Al Fath: 27)

Demikianlah ayat yang turun untuk 1400 muslimin yang ada dalam perjanjian Hudaibiyah. Disaat itu kaum muslimin dalam kehausan dan kebingungan, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil wadah air kemudian beliau berwudhu, dan para sahabat telah berkerumun dihadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Maka beliau berkata, “mengapa kalian berkumpul disini?”

Mereka berkata, “wahai rasulullah, tidak ada lagi air kecuali ini, semua perbekalan kami sudah habis.”

Rasulullah menaruhkan tangannya di wadah itu, dan mengalirlah air dari jari-jari beliau. Maka para sahabat meminumnya dan berwudhu dengan air itu.

Mereka berkata, “kami berwudhu dan minum sepuasnya dimana jumlah kami 1400, jika jumlah kami 100000 pun pastilah mencukupinya.”

Dimalam itu sayyidina Umar datang ke kemah rasulullah dan memberikan pertanyaan kepada rasulullah namun beliau tidak menjawabnya, sayyidina Umar mengulang pertanyaannya hingga 3 kali tetapi rasulullah tetap diam. Kemudian sayyidina Umar keluar dari kemah rasulullah dan berkata pada dirinya, “sungguh akan celaka diriku, berkali-kali aku bertanya kepada Rasulullah namun beliau tetap diam, pastilah akan turun ayat yang akan menegur perbuatanku.”

Tidak beberapa lama setelah keluar dari kemah rasulullah, seorang sahabat memanggilnya, “wahai Umar, kembalilah karena telah turun ayat.”

Sayyidina Umar risau dan khawatir karena mengira pastilah ayat itu turun untuk menegur perbuatannya. Maka rasulullah berkata, “malam ini telah turun ayat yang lebih kusenangi daripada terbitnya matahari.”

Sayyidina Umar bertanya, “ayat apa wahai Rasulullah?”

Maka Rasulullah membacakannya:

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا، لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا، وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا

(الفَتْح: 1-3)

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan ni’mat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak)” (QS. Al Fath: 1-3)

Maka sayyidina Umar berkata, “apakah ini adalah tanda bahwa akan ada fath Makkah wahai Rasulullah?”

Rasulullah berkata, “iya, betul.”

Ayat ini turun pada tahun ke 6 H, dan 2 tahun kemudian tepatnya tahun ke 8 H di bulan ramadhan terjadi Fath Makkah tanpa ada kekerasan dan peperangan. Makkah Al Mukarramah dimasuki oleh seluruh kaum muslimin. Kejadian Hudaibiyah yang terjadi pada bulan Dzulqa’dah tahun ke 6 H, setelah itu terjadi Fath Makkah pada tahun ke 8 H, dan ada juga kejadian-kejadin lainnya yang terjadi pada bulan Dzulhijjah diantaranya hajjah al Wada’. {}

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page