Qasidah dalam Masjid adalah Sunnah

Qasidah adalah pujian kepada nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana perbuatan yang dilakukan di masa nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, namun zaman sekarang hampir tidak dikenal lagi dan bahkan dianggap bid’ah.

Sungguh membaca qasidah di dalam masjid adalah sunnah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memuji sayyidina Hassan bin Tsabit RA yang membaca nasyidah atau qasidah dihadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di masjid An Nabawy.

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat maka sayyidina Umar bin Khattab menegur sayyidina Hassan bin Tsabit karena membaca qasidah di dalam masjid dengan berkata, “apakah harus di tempat ini untuk membaca qasidah?”

Maka sayyidina Hassan bin Tsabit berkata, “dulu aku pernah membaca qasidah disini, dan di saat itu ada orang yang lebih mulia dari engkau,” yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Maka sayyidina Umar terdiam dan memberikan izin kepada sayyidina Hassan bin Tsabit untuk membaca qasidah di masjid. Hal ini adalah sesuatu yang sangat dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Rasulullah berdoa untuk sayyidina Hassan bin Tsabit dengan doa:

اَللّهُمَّ أَيِّدْهُ بِرُوْحِ اْلقُدُسِ

”Wahai Allah bantulah ia dengan (kekuatan) Jibril AS.”

Dikarenakan ia memuji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Mengapa memuji Rasulullah?

Karena orang yang memuji beliau adalah memuji utusan Allah, sebagian orang mengatakan bahwa memuji makhluk adalah hal yang syirik, sungguh hal yang keliru. Kita memuji makhluk yang dicintai oleh Allah adalah hakikat tauhid karena orang yang mengatakan bahwa memuliakan makhluk itu adalah hal yang syirik maka sungguh ia telah mengikuti faham iblis, karena iblis tidak mau memuliakan makhluk yang dimuliakan Allah, iblis hanya mau sujud kepada Allah saja dan tidak mau sujud kepada nabi Adam padahal Allah memerintahnya.

Kita pun demikian, kita tidak sujud kepada makhluk namun kita memuliakan orang yang dimuliakan Allah subhanahu wata’ala, dan makhluk yang paling dimuliakan Allah adalah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Demikian pula dengan Hadrah, diriwayatkan di dalam shahih al Bukhari dan lainnya bahwa ketika Rasulullah disambut dengan Thala’al badru ‘alaina, maka Rasulullah tidak melarangnya. {}

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page