Shalat Sunnah Boleh Cepat

Shalat tarawih yang cepat, sebagian para Salafuna As Shalihin melakukannya, sebagian tidak. Shalat Tarawih dengan cepat teriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari dan ada dalilnya, Rasul SAW melakukan shalat qabliyyah Al Fajr

“Seakan-akan beliau SAW tidak membaca surat Alfatihah,” kata Sayyidatuna Aisyah RA riwayat Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim. Rasul SAW melakukan shalat sunnah qabliyatul Fajr (qabliyah subuh) dua rakaat seakan-akan tidak membaca fatihah dari cepatnya.

Dalam riwayat lain di Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim, Ummu Hani RA melihat Rasul SAW melakukan shalat Dhuha di hari Fath Makkah dengan cepat, seakan-akan beliau tidak shalat tapi beliau menyempurnakan ruku’ dan sujudnya.

Di dalam madzhab Syafi’i yang dimaksud dengan tuma’ninah menyempurnakan ruku’ dan sujud itu kadar maksimalnya tidak ada batasnya, sepanjang apapun boleh tapi kadar minimalnya sekadar seorang mengucapkan “SubhanAllah” satu kali. Kalau di saat itu ia rukuk dan seluruh tubuhnya diam sekadar sekali mengucapkan “SubhanAllah“, itu sudah tuma’ninah maka sah shalatnya.

Kalau sampai ruku’nya bergerak, tidak berhenti di saat ruku’ (dan) di saat sujud maka batal shalatnya, jadi hati-hati kalau mau ikut dengan orang-orang yang Imam shalatnya cepat, harus faham caranya ketika ruku’ harus diam walau sekadar kalimat “SubhanAllah” itu kira-kira sedetik tapi harus diam, jangan terus bergerak.

Kalau seandainya diam sekadar itu maka shalatnya sah, sah rukuknya, sah sujudnya dan membaca fatihah dengan cepat diperbuat oleh Sang Nabi di dalam qabliyah Al Fajr dan lainnya, terlebih lagi shalat tarawih yang juga termasuk shalat sunnah. Namun tentunya hal ini makruh jika dilakukan saat shalat fardhu. {}

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page