Silsilah Rasulullah SAW Dari Madinah, Baghdad, Hadramaut Sampai Jawa

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, maka Khalifah Abu Bakar As Shiddiq RA memegang khilafah, lantas terjadi pemberontakan di beberapa wilayah yang tidak menerima kepemimpinan Sayyidina Abi Bakr As Shiddiq RA, diantaranya Ahlul Yaman. Yaman masuk Islam di tangan Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu wajhah, demikian riwayat Sirah Ibn Hisyam.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah, dan Sayyidina Muadz bin Jabal RA dikirim oleh Rasul saw ke Yaman. Sayyidina Muadz menuju ke Yaman bagian utara, dan Sayyidina Ali menuju ke Yaman bagian Selatan (Hadramaut). Setelah mereka (penduduk Yaman) masuk Islam, maka kembalilah Sayyidina Ali dan Sayyidina Muadz bin Jabal RA.

Namun setelah kepemimpinan Khalifah Sayyidina Abu Bakr As Shiddiq RA, terjadi pemberontakan disana-sini diantaranya di Yaman dan juga di Hadramaut. Dari kota Tarim, penguasa kota Tarim saat itu Sultannya mengirim surat kepada Khalifah Abu Bakr As Shiddiq RA untuk meminta bantuan pasukan dari Madinah, karena banyaknya orang yang menolak kepemimpinan Abu Bakr As Shiddiq RA. Maka Sayyidina Abu Bakr As Shiddiq mengirim beberapa banyak Sahabat, diantaranya mereka Ahlul Badr. Ahlul Badr tentunya tidak semuanya wafat, maka dikirim diantaranya Ahlul Badr menuju Tarim Hadramaut.

Di kota Tarim tempat para Salafus Shalih, disana terdapat yang di sebut Jabal Khailah , yaitu gunung kuda artinya, kenapa disebut gunung kuda? Karena dari gunung itulah turunnya pasukan para Sahabat dari Madinah Al Munawwarah ketika datang dari perintah Sayyidina Abu Bakr As Shiddiq RA menuju kota Tarim. Maka dikatakan jarak terdekat kalau dengan menaiki kuda menuju Madinah dari kota Tarim adalah lewat Jabal Khailah, dari situlah turunnya pasukan Sahabat datang menuju kota Tarim. Mereka bersatu dengan penduduk Tarim untuk membela kepemimpinan Abu Bakr As Shiddiq RA, lantas diantara Ahlul Badr ada yang mati syahid di kota Tarim, dimakamkan dan sampai sekarang ada makam Ahlul Badr di kota Tarim di pekuburan Zanbal .

Selesailah permasalahan Khalifah Abu Bakr As Shiddiq, Sayyidina Umar, Sayyidina Utsman , Sayyidina Ali, berlanjut muslimin terjadi permasalahan diantara Khalifah, dan setelah wafatnya Khulafaa Ar Rasyidin, hingga Al Imam Ahmad Al Muhajir pindah ke Baghdad, keturunan Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw, keturunan Sayyidatna Fathimah Az Zahra’ RA, keturunan Rasulullah SAW. Al Imam Ahmad Al Muhajir di Baghdad dan kemudian mendapat banyak permasalahan dan fitnah serta perpecahan di antara kaum Muslimin, maka Al Imam Ahmad Al Muhajir mengajak beberapa rombongan keluarganya hijrah ke kota Tarim Hadramaut, ke tempat makam Ahlul Badr dan para pembela Abu Bakr As Shiddiq RA.

Wafat Al Imam Ahmad Al Muhajir di wilayah Hadramaut dan dimakamkan disana, lalu keturunannya di antaranya Al Imam Ali bin ‘Alwy Khali’ Qasam AR (alaihi rahmatulllah: semoga atasnya Rahmat Allah swt), seorang Hujjatul Islam yang kemudian berwasiat untuk dimakamkan di sebelah perkuburan Ahlul Badr, dan ia mewakafkan tanah yang di sebut perkuburan Zanbal untuk para keturunannya, hingga saat ini para imam-imam besar banyak sekali dimakamkan di perkuburan itu mengambil tabarruk untuk berdekatan dengan sahabat Ahlul Badr RA .

Ketika Al Imam Ahmad Al Muhajir ingin pindah ke Yaman Hadramaut, sebagian Ulama di Baghdad berkata, “wahai Imam, kau mau kemana?, kau ini Imam Ahlul Bait mau pindah ke Hadramaut tempat yang tandus tidak ada sesuatu!?”

Al Imam berkata, “aku ingin menjaga keturunanku dari fitnah dan dari bencana permusuhan.”

Maka ia pun berangkat ke Hadramaut tanah yang tandus yang tidak ada padanya kecuali baduwi-baduwi (orang-orang dusun), dan diantara bagian besar adalah padang pasir.

Namun, cahaya semangat Al Imam Ahmad Al Muhajir tidak padam dan tidak berhenti di Hadramaut, cahaya kecintaannya yang berpadu dengan para pencinta Khalifah Abu Bakr As Shiddiq RA di kota Tarim Hadramaut dari dakwahnya Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah berkelanjutan, sampailah datang sembilan orang mulia ke pulau Jawa yang keluar dari keturunan Al Imam Ahmad Al Muhajir bin Isa menuju Gujarat lantas sampai ke pulau Jawa, maka dari ujung Banyuwangi hingga ujung kulon ini rata dengan Kalimat Tauhid.

Dari kemuliaan persatuan antara Ahlul Bait dan Sahabat Rasul SAW, mereka sembilan orang ini datang tidak membawa senjata, tidak membawa pasukan, tidak membawa sesuatu bahkan bahasa pun mereka tidak tahu. Tapi mereka membawa semangat keberkahan Ahlul Badr, dan mereka membawa semangat cinta kepada Sayyidina Muhammad SAW. Ternyata dari sembilan orang mulia ini (wali songo), Allah memberikan keberkahan yang sangat luhur sampai jadilah Indonesia negeri Muslimin terbesar di muka bumi. {}

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page