Syafaat Rasulullah di Alam Barzakh

Pertolongan Rasulullah di barzakh sebagaimana dalam riwayat Shahih Muslim Ketika Rasulullah bertanya tentang seorang wanita yang dalam kebiasaannya selalu menyapu masjid, dan ketika itu tidak lagi pernah kelihatan dan ternyata wanita itu wafat.

Maka Rasulullah marah dan berkata kepada para sahabat, “mengapa kalian tidak memberi tahu aku.”

Maka sahabat menjawab, “Wahai Rasulullah disaat itu kami menguburkannya sudah larut malam ,dan kami tidak ingin mengganggumu dengan membangunkanmu.”

Rasulullah berkata, “Tunjukkan aku kuburnya.”

Kemudian sahabat mengantar beliau ke kuburan wanita itu lalu Rasulullah melakukan shalat ghaib di depan kuburnya bersama para sahabat, maka setelah selesai melakukan shalat Rasulullah berkata, “Perkuburan disini penuh dengen kegelapan, namun Allah menerangi kubur mereka semua karena aku menshalati mereka.”

Maka syafaat Rasulullah juga terdapat di alam kubur sebagaimana riwayat Shahih Muslim. Dan syafaat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga untuk para pendosa di dunia.

Sebagaimana riwayat Shahih Muslim ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah hijrah ke Madinah maka ada dua orang sahabat ingin menyusul Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Hijrah dari Makkah, di tengah perjalanan salah seorang teman itu sakit parah, karena tidak bisa lagi menahan sakitnya maka ia mengambil pisau dan memotong urat nadinya, hal ini merupakan dosa besar karena telah melakukan bunuh diri.

Setelah dimakamkan temannya melanjutkan perjalanannya, dan di tengah perjalanan ia bermimpi bertemu temannya yang telah wafat kemudian ia berkata, “bagaimana keadaanmu?, kini aku melanjutkan perjalananku seorang diri menuju ke Madinah untuk berjumpa Rasulullah.”

Maka temannya yang telah wafat menjawab, “Aku telah diampuni oleh Allah karena aku ingin hijrah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, namun tangan yang aku gunakan untuk memotong urat nadiku ini tidak diampuni oleh Allah.”

Maka setelah bangun tidur ia melanjutkan perjalanan ke Madinah dan sesampainya di Madinah ia bercerita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang mimpi itu.

Dalam ilmu hadits jika sudah diceritakan maka bukan lagi termasuk mimpi, bahkan setelah diceritakan kepada Rasulullah, beliau pun telah membenarkannya, kemudian Rasulullah berdoa berkali-kali, “Wahai Allah ampunilah tangannya.”

Demikianlah akhlak nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah. ()

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page