Tasbih Itu Mempermudah Dzikir

Rasul saw menemui seorang wanita yang sedang bertasbih dengan batu-batu, maka Rasul saw berkata, “sedang apa engkau?”

Maka wanita itu berkata, “aku menggunakan batu batu ini untuk bertasbih.”

Maka Rasul saw bersabda, “maukah kau kuajari hal yang lebih baik daripada itu dan lebih mudah?, bacalah? subhanallah adada khalaqa fissamaa, subhanallah adada maa fil ardhi, … dan seterusnya.” (HR Imam Hakim dalam Almustadrak alasshahihain, Tirmidzi, Abu Dawud, dan lainnya.)

Adalagi hadits mirip dengan ini yang juga Rasul saw berkata demikian, bahkan di hadits itu dikatakan bahwa Shafiyyah ra istri Rasul saw sedang menghadapi 4000 (empat ribu buah) batu kerikil karena ia sedang berdzikir, maka Rasul saw mengajari hal diatas.

Namun hal itu bukan pelarangan, tetapi pengajaran agar wanita itu tidak kesulitan, bagaimana tidak? Wanita itu berkecimpung dengan bebatuan kerikil (mungkin besar-besar) hanya sekedar ingin berdzikir, bahkan istri beliau saw duduk dengan 4 ribu buah batu, alangkah sulit dan repotnya.

Lain dengan tasbih masa kini yang sangat indah dan mudah, bahkan ada tasbih yang 100 buah dengan 10 butir lebih kecil diujungnya untuk menjadikannya tanda agar dapat menghitung hingga 1000, ini sangat baik dan mulia, karena banyak pula hadits hadits shahih yang memerintahkan kita bertasbih dan berdzikir hingga 100 kali, adapula lagi alat yang bisa menghitung hingga 9999.

Hadits diatas bukan pelarangan, namun sekedar penjelasan bahwa ada dzikir lainnya yang juga afdhal, sebagaimana ketika Fathimah Azzahra ra meminta pembantu kepada Rasul saw maka Rasul saw bersabda, “maukah kau kuajari suatu doa yg bila kau baca maka itu lebih baik dari pembantu?, ucapkanlah … dan seterusnya.” (Shahih Bukhari)

Apakah hadits ini bermakna Rasul saw mengharamkan pembantu?,  sedangkan Rasul saw sendiri banyak mempunyai pembantu, seperti Anas bin malik ra dan banyak lagi.

Tentunya larangan itu hanya datang dari mereka yang dangkal pemahamannya terhadap hukum syariah.

  • Tidak ada satu hadits pun yangg melarang penggunaan Tasbih (alat untuk berdzikir).
  • Rasul saw belum pernah teriwayatkan menggunakan tasbih, beliau berdzikir dengan jari-jari.

Telah berkata Imam Assuyuthi rahimahullah dalam Fatwanya. “Tidak pernah ada larangan sahabat atau ulama salaf atau ulama khalaf mengenai penggunaan alat tasbih, bahkan kebanyakan dari mereka menggunakannya, dan tidak menganggapnya makruh sekalipun?”

Tentunya yang utama adalah dzikir yang banyak, bukan pada tasbih atau tidak, namun kemudahan bagi kita tentunya lebih mudah dengan tasbih. Karena hanya cukup dengan dua jari saja yang bekerja, kita sudah bisa berdzikir ribuan kali, maka tentunya yang berdzikir tanpa tasbih akan dikalahkan, dan ia akan tersibukkan dengan menghitung dengan kedua tangannya.

Secara logika bila hal ini ditanyakan kepada Rasul saw, maka pastilah Rasul saw akan memilih yang lebih mudah, sebagaimana diriwayatkan bahwa bila ada dua hal dari hukum maka Rasul saw selalu memilih yang lebih mudah (shahih Bukhari). {}

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page