Imam Al-Asya’ri (260-324H)

Imam Abu Al-Hasan Ali bin Ismail Al-Asya’ri lahir di kota Basrah Iraq pada tahun 260H, beliau adalah keturunan dari salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang bernama Abu Musa Al-Asya’ri. Pada usia 10 tahun, setelah ayahnya meninggal dunia, beliau mempunyai ayah tiri seorang tokoh Muktazilah bernama Abu Ali Al-Jubba’i. Dari ayah tirinya inilah Imam Al-Asya’ri menganut dan mempelajari akidah Muktazilah.

Karena merasa tidak puas dengan faham Muktazilah yang yang dalam memahami ilmu kalam (filsafat) mendahulukan akal tetapi tidak jarang menemukan jalan buntu dan argumentasinya dapat dipatahkan menggunakan argumentasi akal yang sama. Diriwayatkan juga ada perdebatan antara Imam Al-Asya’ri dan ayah tirinya Abu Ali Al-Jubba’i.

Hingga akhirnya setelah Imam Al-Asya’ri bermimpi bertemu Rasulullah SAW (tiga kali bermimpi), pada usia 40 tahun Imam Al-Asya’ri keluar dari akidah Muktazilah. Lalu beliau mulai membela hadits-hadits yang berkaitan dengan ru’yah (melihat Allah di akhirat), syafa’at dan lainnya, hingga tidak ada satu orangpun yang mampu membantahnya.

Imam Al-Asya’ri wafat di Bagdad Iraq pada tahun 324H. Bisa dikatakan semasa hidupnya Imam Al-Asya’ri menjalani mengikuti akidah, yaitu Muktazilah dan kemudian kembali ke Aswaja. Ada pula riwayat yang menyebutkan Imam Al-Asya’ri sempat menganut faham aqidah lainnya yaitu Kullabiyah setelah keluar dari Muktazilah, baru kemudian kembali ke Aswaja.